MALANG - Bahasa guru di ruang kelas ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampai materi pelajaran. Lebih dari itu, bahasa menjadi instrumen strategis yang membentuk karakter, nilai moral, serta kemampuan berpikir kritis siswa sejak usia dini. Temuan tersebut mengemuka dalam penelitian berjudul “Kajian Pragmatik pada Bahasa Guru dalam Pendidikan Karakter dan Literasi Kritis Pembelajaran Siswa SD” yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Penelitian ini diketuai oleh Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si., dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM, dengan anggota Dr. Erna Yayuk, M.Pd. (dosen Pendidikan Profesi Guru FKIP UMM), serta melibatkan dua mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM, Devi Putri Susilo dan Fatin Safunatunnaja. Kajian ini secara khusus menyoroti bagaimana tindak tutur guru, yang meliputi ujaran, instruksi, pertanyaan, hingga respons verbal. Kajian tersebut berperan dalam menanamkan pendidikan karakter dan mendorong literasi kritis siswa sekolah dasar.
Penelitian dilakukan melalui pengamatan terhadap sembilan pembelajaran uji kinerja mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu SD tahun 2024. Guru-guru tersebut berasal dari berbagai sekolah dasar di Indonesia, sehingga merepresentasikan keragaman konteks, latar sosial, serta gaya komunikasi guru dalam pembelajaran.
Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lensa pragmatik, cabang linguistik yang mengkaji makna bahasa dalam konteks penggunaannya. “Bahasa guru tidak berdiri sendiri sebagai teks, tetapi selalu hadir dalam situasi sosial, relasi kuasa, tujuan pembelajaran, dan kondisi psikologis siswa. Di situlah makna pragmatik bekerja,” ujarnya.
Melalui analisis transkrip tuturan guru, tim peneliti mengidentifikasi bentuk-bentuk tindak tutur, fungsi pragmatik, serta implikasinya terhadap pembentukan karakter dan literasi kritis. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berulang dan mendalam.
![]() |
| Murid sedang mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas, Guru sebagai fasilitator pembelajaran memberikan umpan balik atas presentasi murid. |
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kebijakan pendidikan, program Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta pelatihan komunikasi pedagogis guru di Indonesia. Ke depan, tim peneliti menargetkan publikasi hasil kajian ini pada jurnal nasional terakreditasi dan media massa sebagai bagian dari kontribusi akademik UMM bagi peningkatan mutu pendidikan dasar.
“Jika kita ingin membangun pendidikan karakter dan literasi kritis, maka salah satu kuncinya ada pada bahasa guru di kelas,” tandas Daroe Iswatiningsih.
Di tempat sama, dosen Pendidikan Profesi Guru FKIP UMM, Dr. Erna Yayuk, M.Pd, yang juga anggota tim peneliti, mengungkapkan hasil penelitian menunjukkan bahwa guru secara konsisten menggunakan berbagai bentuk tindak tutur yang berorientasi pada penguatan pendidikan karakter. Tindak tutur direktif, asertif, dan ekspresif muncul dominan dalam interaksi pembelajaran.
Contohnya, guru menggunakan tuturan yang mendorong siswa untuk menghargai perbedaan pendapat, bersikap jujur, bertanggung jawab, serta berani menyampaikan pandangan. Ujaran sederhana seperti meminta siswa mendengarkan pendapat teman, memberi apresiasi atas keberanian menjawab, atau menegaskan pentingnya disiplin dalam mengerjakan tugas, terbukti mengandung nilai karakter yang kuat.
“Bahasa guru adalah model nyata yang ditiru siswa. Ketika guru menggunakan bahasa yang santun, menghargai, dan empatik, siswa belajar karakter bukan dari ceramah, tetapi dari praktik langsung,” terang Erna Yayuk.
Selain pendidikan karakter, tambah Erna Yayuk, penelitian ini juga mengungkap peran signifikan bahasa guru dalam mengembangkan literasi kritis siswa SD. Literasi kritis tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan menganalisis, mempertanyakan, dan mengevaluasi informasi.
Guru yang mengajukan pertanyaan terbuka seperti “Mengapa kamu berpikir demikian?”, “Apakah ada pendapat lain?”, atau “Apakah semua informasi itu selalu benar?” terbukti mendorong siswa untuk berpikir lebih dalam dan reflektif. Tuturan semacam ini mengajak siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi menimbang alasan, membandingkan perspektif, dan mengaitkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari.
Devi Putri Susilo, salah satu anggota peneliti menambahkan, kajian tim peneliti praktik ini sejalan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan Higher Order Thinking Skills (HOTS). “Literasi kritis tidak tumbuh secara instan. Akan tetapi, dibangun melalui kebiasaan dialogis yang difasilitasi oleh bahasa guru,” jelas Devi Putri Susilo.
Hal menarik diungkapkan Devi Putri Susilo bahwa penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai fungsi pragmatik tuturan guru, antara lain sebagai sarana memotivasi, mengarahkan, menegur secara konstruktif, memuji, hingga membangun suasana belajar yang aman dan inklusif. Fungsi-fungsi ini bekerja secara simultan dalam membentuk iklim pembelajaran yang kondusif bagi perkembangan karakter dan daya kritis siswa.
Tuturan guru yang bersifat persuasif dan dialogis terbukti lebih efektif dibandingkan bahasa instruksional satu arah. Guru tidak lagi sekadar pusat informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator, mediator, dan motivator yang membuka ruang partisipasi aktif siswa.
Temuan penelitian ini memiliki implikasi kuat terhadap pengembangan strategi komunikasi guru yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa serta penguatan Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, bernalar kritis, dan berakhlak mulia.
Bahasa guru yang dialogis, reflektif, dan menghargai keberagaman pandangan dinilai mampu menjadi jembatan antara tujuan kurikulum dan praktik nyata di kelas. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan guru yang tidak hanya fokus pada metode dan media pembelajaran, tetapi juga pada kesadaran berbahasa secara pragmatis.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa bahasa guru adalah kekuatan pedagogis yang sering kali luput disadari. Melalui kajian pragmatik, bahasa tidak lagi dipandang sebagai aspek teknis semata, melainkan sebagai sarana strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat dan berpikir kritis. (tim peneliti dosen umm/don)



0 Komentar