
KKN UMM Hadirkan Solusi Krisis Air Bersih di Malang Selatan.
MALANG - Selasa (11/8) Krisis air bersih masih menjadi persoalan yang dihadapi sejumlah wilayah di Kabupaten Malang, terutama saat musim kemarau. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 171 menghadirkan inovasi teknologi tepat guna dengan mengubah sumur yang selama bertahun-tahun terbengkalai menjadi sumber air siap minum bagi masyarakat Dusun Majapurna, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.
Inovasi ini menjadi bukti nyata implementasi tridarma
perguruan tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Sejalan dengan
komitmen UMM sebagai UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem, program
tersebut tidak hanya menyediakan akses air bersih, tetapi juga memperkuat upaya
pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan melalui kolaborasi antara
perguruan tinggi dan masyarakat.
Fasilitas penyedia air siap minum tersebut diwujudkan
melalui pemasangan instalasi penyaring air berteknologi multi-stage filtration
yang dikembangkan sebagai solusi atas keterbatasan akses air layak konsumsi di
wilayah tersebut. Program berada di bawah pendampingan Dosen Pembimbing
Lapangan (DPL) Rindya Fery Indrawan, S.Pi., M.P., sementara secara kelembagaan
bantuan alat diserahkan oleh Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT. PhD. IPM Selaku
Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM
kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sumbermanjing Wetan sebagai mitra
pengelola.
Teknologi yang diterapkan memanfaatkan sumber air dari sumur
yang sebelumnya tidak lagi dimanfaatkan masyarakat. Air dipompa menuju sistem
penyaringan yang terdiri atas empat tahapan filtrasi untuk menghilangkan
lumpur, partikel halus, bau, serta kontaminan lainnya. Pada tahap akhir, air
disterilkan menggunakan teknologi Ultraviolet (UV Sterilizer) sehingga aman
dikonsumsi secara langsung tanpa harus dimasak kembali.
Inovasi tersebut sejalan dengan agenda pembangunan
berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 6 (Clean
Water and Sanitation) yang menekankan pentingnya akses terhadap air bersih dan
sanitasi yang aman bagi seluruh masyarakat. Menurut UNICEF dan WHO, jutaan
masyarakat di berbagai belahan dunia masih mengalami keterbatasan akses
terhadap air minum yang layak, sehingga inovasi berbasis masyarakat menjadi
salah satu strategi penting dalam meningkatkan kualitas hidup.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN Berdampak UMM, Rindya Fery
Indrawan, S.Pi., M.P., menjelaskan bahwa program tersebut dirancang tidak hanya
untuk menyelesaikan persoalan air bersih, tetapi juga membangun kemandirian
masyarakat dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan.
"Program ini kami rancang agar memberikan manfaat
jangka panjang bagi masyarakat. Sebagai perguruan tinggi yang mengemban amanah
UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem, UMM memiliki tanggung jawab untuk
menghadirkan inovasi yang mendukung pengelolaan air secara berkelanjutan.
Mahasiswa kami tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan melalui pendekatan
akademik, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat langsung dirasakan
masyarakat. Harapannya, fasilitas ini mampu meningkatkan kualitas kesehatan,
mengurangi beban ekonomi warga, sekaligus menjadi contoh bagaimana teknologi
tepat guna dapat diterapkan di desa," jelas Indra yang merupakan Dosen
Perikanan UMM.
Sementara itu, salah satu penerima manfaat, Pak Holi,
mengaku kehadiran instalasi air siap minum tersebut membawa perubahan besar
bagi kehidupan masyarakat Dusun Majapurna.
"Dulu sumur ini tidak digunakan karena airnya dianggap
kurang layak untuk diminum. Sekarang, berkat bantuan mahasiswa UMM, airnya
sudah bisa langsung dikonsumsi. Kami sangat terbantu karena tidak perlu lagi
membeli air minum atau mengambil air dari tempat yang jauh. Semoga fasilitas ini bisa terus dimanfaatkan dan
dirawat bersama oleh warga," tuturnya.
Program ini juga
mendapat sambutan positif dari masyarakat karena tidak hanya menyediakan
fasilitas, tetapi juga disertai edukasi mengenai pentingnya menjaga kualitas
sumber air, perawatan instalasi penyaring, serta pengelolaan air bersih secara
berkelanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki
sehingga keberlangsungan program tetap terjaga meskipun kegiatan KKN telah
berakhir.
Melalui inovasi
ini, KKN Berdampak UMM kembali menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah
masyarakat bukan sekadar menjalankan program pengabdian, tetapi menjadi bagian
dari upaya menciptakan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Dari sebuah sumur yang dahulu terbengkalai, kini mengalir air siap minum yang
menjadi simbol harapan baru bagi warga Majapurna.
Program tersebut sekaligus mempertegas komitmen Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Kampus Berdampak yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif menghadirkan inovasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Melalui perannya sebagai UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem, UMM terus mendorong lahirnya berbagai solusi berbasis ilmu pengetahuan dalam mewujudkan ketahanan air, pelestarian ekosistem, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. (nabil/kelompok 171 KKN Berdampak UMM Harjokuncaran)

0 Komentar