Format keanggotaan KucingMu. 

 

YOGYAKARTA — Komunitas Kucing Muhammadiyah (KucingMu) yang sempat viral setelah meluncurkan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) khusus kucing kini mendapat perhatian langsung dari masyarakat. Komunitas yang digagas Bidang Kesehatan Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) DIY bersama Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM DIY itu bahkan punya potensi berkembang menjadi gerakan dakwah baru.

Viralnya KucingMu di media sosial mengundang antusiasme masyarakat, lalu mencari informasi mengenai komunitas tersebut, tertarik bergabung, bahkan berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta.

Merespons tingginya perhatian publik, DPD IMM DIY bersama LDK PWM DIY melakukan audiensi dengan PP Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (22/7). Pertemuan itu membahas latar belakang pembentukan KucingMu, tujuan penerbitan KTAM khusus kucing, hingga peluang pengembangan layanan yang berkaitan dengan kesejahteraan hewan.

Ketua Bidang Kesehatan DPD IMM DIY, Afghan Azka Falah, menjelaskan bahwa KucingMu berawal dari diskusi sederhana mengenai bagaimana menghadirkan gerakan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

"Awalnya ini hanya obrolan ringan antara saya dan dr. Rais di Sekretariat IMM Universitas Gadjah Mada. Kami berpikir bagaimana menghadirkan gerakan baru yang dapat melibatkan mahasiswa kedokteran, kedokteran hewan, farmasi, dan disiplin ilmu kesehatan lainnya dalam satu aksi nyata," ujarnya.

Menurut Afghan, gerakan tersebut dibangun di atas paradigma One Health, yakni konsep yang memandang kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.

"Kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesehatan hewan maupun lingkungan. Ketiganya saling memengaruhi. Karena itu, kolaborasi lintas profesi menjadi sangat penting," katanya.

Ia menuturkan, kucing dipilih sebagai pintu masuk gerakan karena memiliki kedekatan historis maupun emosional dengan manusia. Selain mudah diterima masyarakat, kucing dinilai menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan isu kesehatan hewan kepada warga Muhammadiyah.

Kegiatan pemeriksaan kucing di Muhammadiyah memperoleh dukungan para dokter hewan Muhammadiyah. Dengan menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan, pemberian obat, vitamin, salep, hingga tindakan noninvasif lainnya.

Sementara itu, KTAM khusus kucing yang sempat menjadi perbincangan luas di media sosial, menurut Afghan, awalnya hanya dibuat secara spontan untuk menambah daya tarik kegiatan. Namun di luar dugaan, kartu tersebut justru membuka peluang yang lebih besar.

"Setelah kami diskusikan, kartu identitas hewan ini memiliki manfaat sebagai rekam medis, pendataan populasi, hingga menjadi basis pengembangan layanan kesehatan hewan di masa depan," jelasnya.

Pendataan itu juga diharapkan mampu memetakan kepemilikan kucing di kalangan warga Muhammadiyah sekaligus menjadi dasar penyusunan program, termasuk mengidentifikasi fenomena animal hoarding atau kondisi ketika seseorang memelihara terlalu banyak hewan.

Saat ini KucingMu telah memiliki sekitar 90 anggota dalam grup komunikasi dan sekitar 60 ekor kucing telah terdata dalam sistem keanggotaannya.

Ke depan, DPD IMM DIY berencana membentuk Jaringan Veteriner Muhammadiyah sebagai wadah kolaborasi para dokter hewan Muhammadiyah. Selain itu, KucingMu juga tengah menyiapkan program Trap-Neuter-Return (TNR) untuk pengendalian populasi kucing liar yang akan diawali melalui pemetaan populasi kucing di sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA), seperti UMY dan UAD.

Ketua Umum DPD IMM DIY, Mayda Dwi Hadiyanti, menambahkan jika sambutan masyarakat terhadap KucingMu menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah dapat dikembangkan melalui pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan minat masyarakat, khususnya generasi muda.

Menurutnya, program ini juga menjadi ruang perkaderan baru yang mampu menghubungkan mahasiswa dan masyarakat melalui isu kesehatan hewan.

"Awalnya kami diminta mencari cara memperluas gerakan Muhammadiyah di DIY melalui penambahan komisariat dan cabang IMM. Ternyata kegiatan seperti ini justru mendapat respons luar biasa. Ini menjadi peluang bagi Muhammadiyah untuk mengembangkan dakwah melalui pendekatan yang unik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Hal serupa disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM DIY, Ananto Isworo. Ia melihat KucingMu bukan hanya memiliki nilai dakwah, tetapi juga peluang ekonomi yang besar.

Menurutnya, Muhammadiyah dapat mengembangkan berbagai layanan seperti klinik hewan, pet shop, hingga tempat penitipan kucing (cat hotel), mengingat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan tersebut.

"Kalau klinik hewan atau tempat penitipan kucing bisa terwujud, itu akan menjadi prestasi luar biasa. Muhammadiyah memiliki ratusan rumah sakit dan klinik manusia, tetapi hingga kini belum memiliki klinik maupun rumah sakit hewan," katanya.

Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto menyambut baik lahirnya KucingMu. Menurutnya, komunitas tersebut dapat menjadi lahan dakwah baru sekaligus berkontribusi pada kesehatan masyarakat.

Ia mendorong agar KucingMu terus berkembang sebagai kelompok minat yang menghimpun para dokter hewan dan pemerhati kesejahteraan hewan hingga pada akhirnya mampu mewujudkan amal usaha kesehatan hewan pertama di lingkungan Muhammadiyah.

"Ini sangat baik karena bisa dikaitkan dengan kesehatan masyarakat. Kucing sudah menjadi bagian dari banyak rumah tangga. Kalau kesehatan hewannya terjaga, tentu akan berdampak pada kesehatan pemiliknya. Apalagi jika nanti berkembang menjadi rumah sakit hewan, hotel kucing, pet shop, atau rumah singgah kucing sebagai bagian dari dakwah komunitas," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti menilai KucingMu merupakan contoh gerakan bottom-up yang lahir dari kreativitas kader muda Muhammadiyah. Kehadiran KucingMu melengkapi berbagai komunitas dakwah Muhammadiyah yang telah lebih dulu hadir, seperti BikersMu, GowesMu, RunnerMu, hingga JakiMu.

Adapun soal KTAM khusus kucing, Sayuti memastikan kalau itu tidak dimaksudkan untuk menjadikan hewan sebagai anggota Muhammadiyah.

"KTAM kucing itu bukan untuk memobilisasi kucing menjadi anggota Muhammadiyah, melainkan sebagai instrumen pendataan kesehatan hewan sekaligus pintu masuk dakwah komunitas. Dari sana sangat mungkin berkembang menjadi layanan maupun unit usaha yang bermanfaat bagi masyarakat," tegasnya.