Oleh: Marta Pujiono, Mahasiswa Pascasarjana Bimbingan dan Konseling UAD Yogyakarta
Kita sedang hidup di era di mana "kecepatan" adalah mata uang utama. Digitalisasi telah mengubah wajah peradaban menjadi sebuah ekosistem yang serba cepat dan penuh perubahan, di mana budaya instan menjadi fenomena sosial yang menyatu dalam keseharian. Mulai dari memesan makanan melalui aplikasi seperti GoFood dengan satu klik, hingga konsumsi informasi visual yang terfragmentasi di media sosial, semuanya menjanjikan hasil cepat tanpa hambatan. Kemudahan fitur aplikasi ini tanpa sadar telah mendikte pola pikir kita untuk selalu mengharapkan kepuasan dalam waktu singkat tanpa mau melalui proses yang lama.
Di tengah kepungan teknologi , apa sebenarnya arti menjadi "merdeka"? Merdeka bukan sekadar kebebasan fisik, melainkan kapasitas untuk memiliki kendali penuh atas pilihan hidup kita. Gerald Corey (2024) dalam teorinya menekankan bahwa kebebasan dan tanggung jawab adalah dua sisi dari koin yang sama; kita adalah arsitek atau penulis dari kehidupan kita sendiri. Menurut Corey, manusia memiliki kemampuan untuk sadar akan diri sendiri dan bebas memilih sikap dalam situasi apa pun. Maka, merdeka dari budaya instan berarti membebaskan diri dari jeratan "itikad buruk" (bad faith)sebuah kondisi di mana kita menyalahkan teknologi atau lingkungan atas perilaku impulsif kita, padahal kita memiliki kekuatan untuk menentukan arah masa depan kita sendiri.
Delayed Gratification Adalah kemampuan untuk melawan budaya instan dikenal dengan istilah Delayed Gratification (menunda kepuasan). adalah kapasitas individu untuk menunda keinginan akan imbalan jangka pendek demi mencapai tujuan jangka panjang yang lebih bermakna dan berharga. Sayangnya, di era digital, penggunaan media sosial secara pasif dan fenomena Fear of Missing Out (FoMO) terus mengikis kemampuan ini. Individu dengan Delayed Gratification yang rendah cenderung memiliki kendali diri yang lemah dan lebih rentan mengalami tekanan psikologis saat menghadapi tantangan hidup yang memerlukan ketekunan.
Budaya yang serba cepat membawa dampak yang mengkhawatirkan,pendangkalan pemikiran. Kita terbiasa menerima informasi tanpa mendalami konteks, lebih tertarik pada konten viral yang meledakkan emosi sesaat daripada pemikiran yang mendalam. Akibatnya, nilai-nilai kebijaksanaan seperti kesabaran, yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan, mulai luntur. Proses yang bertahap dianggap sebagai beban atau ketidakefektifan, padahal kebijaksanaan justru lahir dari pengalaman yang matang dan refleksi atas setiap langkah yang diambil.
Bagaimana kita bisa keluar dari labirin ini? Gerald Corey (2024) mengingatkan bahwa perubahan dimulai dengan menerima tanggung jawab pribadi atas pilihan kita. Kita perlu menyadari bahwa meskipun kita tidak bisa mengontrol pesatnya kemajuan teknologi, kita memiliki kendali penuh atas cara kita menanggapi dan menggunakannya.
1. Melatih Delayed Gratification (Menunda Kepuasan): Kita harus belajar untuk menghargai proses. Salah satu caranya adalah dengan menyusun perencanaan masa depan yang spesifik dan terukur, serta memecah tujuan besar menjadi langkah-langkah kecil yang konsisten.
2. Mindfulness dan Kendali Diri: Melatih mindfulness adalah tentang hadir sepenuhnya di saat ini (here and now) tanpa harus terburu-buru mengejar kepuasan berikutnya. Dengan meningkatkan kesadaran diri, kita dapat menginterupsi pola perilaku otomatis yang merugikan dan mengambil keputusan yang lebih rasional serta adaptif.
Merdeka dari budaya instan adalah sebuah proyek kemanusiaan untuk merebut kembali otoritas atas diri kita sendiri. Dengan mempraktikkan penundaan kepuasan dan memperkuat kendali diri melalui mindfulness, kita tidak hanya menyelamatkan kesehatan mental kita, tetapi juga menjaga identitas kita agar tidak larut dalam arus homogenitas global. Seperti kata Corey, "kita adalah pilihan-pilihan kita". Mari memilih untuk tidak menjadi tawanan kecepatan, melainkan menjadi pribadi yang merdeka dengan menghargai setiap inci dari sebuah proses.(*)


0 Komentar