Subscribe Us

Eco Bhinneka Muhammadiyah Gelar Dialog Inkubasi Ecososiopreneur Selai Buah Naga

 

Suasana dialog inkubasi ecososiopreneur selai buah naga.

 BANYUWANGI– Pendopo Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, menjadi saksi semangat kolaborasi lintas iman dan komunitas. Sekitar 30 peserta dari berbagai latar belakang — mulai dari Nasyiatul Aisyiyah, Fatayat NU, PERADAH (Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia), hingga Komunitas Tuli Banyuwangi — berkumpul dalam Dialog Inkubasi Ecososiopreneur Selai Buah Naga yang digagas oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah. (8/11/25)

Kegiatan ini menjadi lanjutan dari kelas Siklus Hidup Buah Naga dan pelatihan Selai Kulit Buah Naga yang sebelumnya diselenggarakan di Dusun Sumberjambe. Kali ini, fokusnya adalah mempertemukan masyarakat lintas komunitas untuk memperkuat jejaring wirausaha sosial berbasis potensi lokal.

“Ecobhinneka di Temurejo fokus pada ecososiopreneur — sebuah konsep bisnis yang berakar pada kepedulian terhadap manusia, bumi, dan keberlanjutan ekonomi. Baik dan rusaknya bumi tergantung manusia,” ujar Zahrotul Janah, Focal Point SMILE Ecobhinneka Banyuwangi, dalam sambutannya.

Ia menambahkan, kehadiran Teman Usaha Rakyat dan Komunitas Tuli Banyuwangi (TALIWANGI) menjadi bentuk nyata dari semangat inklusivitas yang diusung program ini. “Kita ingin membangun ruang usaha yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga memanusiakan.”

Dari sisi pemerintah desa, Rohman Fauzy, Sekretaris Desa Temurejo, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa desa memiliki potensi besar pada komoditas buah naga, namun selama ini belum didukung dengan pendampingan dan perizinan yang kuat. “Dulu kami sempat membuat dodol buah naga, tapi berhenti karena tak ada pembinaan lanjutan. Kami berharap Ecobhinneka bisa jadi penggerak baru bagi Temurejo,” ucapnya.

Dalam sesi dialog, Beni Oktavianto dari Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Banyuwangi menjelaskan pentingnya legalitas usaha. “Dengan memiliki NIB dan sertifikat PIRT, pelaku UMKM bisa menjangkau pasar lebih luas. Pemerintah juga memberi fasilitas gratis seperti kemasan dan subsidi ongkir,” terangnya.

Sementara itu, Putri Pangestu, Ketua Komunitas Tuli Banyuwangi (TALIWANGI), bersama juru bahasa isyarat Ariensa Gita P., memimpin sesi interaktif tentang Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Peserta belajar sapaan sederhana, perkenalan diri, hingga komunikasi dasar dengan teman tuli.

“Aku tuli tapi aku semangat jualan, aku bisa,” kata Ani, salah satu pelaku UMKM tuli, yang mendapat tepuk tangan dari peserta.

Menutup kegiatan, peserta menyampaikan kesan dan rencana tindak lanjut: dari produksi keripik aci hingga selai buah naga sebagai produk unggulan desa. “Kami ingin UMKM Temurejo tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh dengan semangat keberagaman,” kata Miftahidah, perwakilan Nasyiatul Aisyiyah Bangorejo.

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan jamuan hasil olahan buah naga buatan warga. Suasana hangat itu menjadi simbol bahwa kerja kolaboratif antara perempuan, pemuda, difabel, dan pemerintah dapat menjadi pondasi kuat menuju ekonomi desa yang adil dan berkelanjutan. (zahrotul janah/arief hartanto)

Posting Komentar

0 Komentar