Subscribe Us

Dosen UMM Bahas Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis Lingkungan FAVA Methods

Foto bersama antara nara sumber dengan peserta diskusi.


GRESIK– Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd, hadir sebagai nara sumber utama dalam  Focus Group Discussion (FGD) Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk Pembuatan Media Pembelajaran Berbahan Plastik Ramah Lingkungan Menggunakan FAVA Methods untuk Pendidikan Berkelanjutan, (8/12) 2025 bersama (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) MGMP Matematika Kabupaten Gresik.

Saat menjadi narasumber tersebut, Dyah – begitu Dyah Worowirastri Ekowati disapa- menjelaskan konsep integrasi berbasis isu lingkungan ke dalam pembelajaran matematika. Topik ini menjadi diskusi strategis para guru matematika SMA untuk memahami urgensi pemanfaatan sampah plastik sebagai media pembelajaran.

Ketika opening diskusi Dyah bertanya kepada peserta MGMP  matematika tentang media pembelajaran berbasis lingkungan yang ternyata belum pernah digunakan oleh para guru matematika dalam mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi media ramah lingkungan dalam pembelajaran matematika masih minim. Persepsi umum tentang matematika SMA itu sudah dipandang abstrak jadi tidak perlu media.

Suasana diskusi pembuatan media pembelajaran
berbahan ramah lingkungan FAVA Methods. 

Dyah lantas menjelaskan dalam teori perkembangan kognitif Piaget, meskipun siswa SMA berada pada tahap berpikir abstrak, bukan berarti seluruh materi dapat diajarkan tanpa visualisasi.

Ada beberapa konsep matematika yang jika tidak kuat diawal, terutama pada fase konkret maupun semi-konkret, anak-anak membutuhkan visualisasi untuk menjembatani menuju semi-abstrak hingga abstrak.

Itu sebabnya diperlukan media pembelajaran. Media pembelajaran sangat bermakna bagi siswa karena untuk membuat konsep matematika lebih konkret dan mudah dipahami. Sehingga media yang digunakan tidak hanya sebatas materi peluang, trigonometri tapi belum mengangkat isu lingkungan.

Nah, dari FGD ini dilanjutkan Dr Agung Deddiliawan Ismail, M.Pd, mulai memaparkan bagaimana memanfaatkan sampah plastik sebagai media pembelajaran Reduce yang edukatif, murah, relevan, dan berorientasi lingkungan. Konsep matematika dapat divisualisasikan dengan media dari limbah plastik seperti botol, tutup botol, gelas plastik, kemasan transparan, dan potongan plastik mika. Kalau menggunakan bahan ramah lingkungan seperti plastik. Contohnya seperti statistik yang bisa divisualisasikan melalui sampah plastik sebagai data konkret.

Pembahasan berkembang ketika Dyah dan Agung mengajak peserta FGD menerapkan media pembelajaran berbahan plastik ramah lingkungan. Peserta menyampaikan bahwa guru perlu menyiapkan materi, kondisi siswa, alokasi waktu, alat, bahan, langkah pembelajaran, hingga latar belakang siswa. Persiapan matang menjadi kunci media pembelajaran bisa dimanfaatkan sesuai tujuan pembelajaran, bukan sekadar proyek kreatif semata.

Penyampaian materi oleh nara sumber.

Selain itu, Dyah menegaskan pentingnya penentuan strategi pembelajaran dan penyusunan tahapan kegiatan sebelum media digunakan. Pendekatan FAVA Methods (Find, Analyze, Visualize, Apply) menjadi metode efektif yang membantu guru menelusuri potensi sampah plastik, menganalisis kesesuaiannya dengan materi matematika, memvisualisasikannya dalam bentuk media konkret, kemudian menerapkannya dalam pembelajaran nyata di kelas.

“Kami mengajak guru matematika memahami bahwa sampah plastik tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi dapat menjadi sarana edukatif bernilai tinggi. Media berbahan plastik bekas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti model bangun ruang dari botol plastik, spinner peluang dari tutup botol, papan trigonometri dari plastik mika, hingga alat peraga operasi bilangan. Dengan demikian, sampah plastik bukan hanya diolah kembali, tetapi diberi makna baru sebagai alat pembelajaran Reduce,” ujar Dyah dosen Prodi PGSD UMM ini.

Dari tindaklanjut diskusi ini, Dyah mengumumkan lomba media pembelajaran berbahan plastik ramah lingkungan tingkat SMA se-Kabupaten Gresik. Lomba ini akan diikuti 20 sekolah negeri maupun swasta, dengan tiga kategori penghargaan yaitu media terkreatif, terinovatif, dan terfavorit. Program ini diharapkan mendorong siswa sekaligus guru untuk terus bereksperimen dengan media berbasis sampah plastik.

Sebagai closingnya Dyah berharap FGD ini dapat memperkaya wawasan guru mengenai konsep pembelajaran berkelanjutan, sekaligus menjadikan matematika dapat diajarkan dengan cara yang lebih konkret, aplikatif, dan memiliki nilai ekologis.

Salah satu peserta FGD, Fitri Andriyani, M.Pd, dari SMA Muhammadiyah 10 Gresik, menjelaskan bahwa meskipun terdapat banyak materi abstrak, beberapa konsep tetap membutuhkan media konkret sebagai jembatan dari tahap konkret menuju abstrak. (rilis humas/don)


Posting Komentar

0 Komentar