Subscribe Us

Prodi Matematika UMM Diskusi Modul Matematika Berbasis Literasi Lingkungan

Penyerahan cinderamata oleh nara sumber dari Prodi Matematika UMM.


MALANG- Program studi Matamatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar diskusi pendidikan tentang literasi lingkungan pada pembelajaran matematika SMA. Hal ini dijelaskan nara sumber diskusi tersebut Dr. Agung Deddiliawan Ismail, M.Pd, (8/12) 2025 kemarin di SMA Muhammadiyah 1 Gresik.

Menurut Agung diskusi ini dipicu keprihatinan terhadap isu-isu lingkungan seperti bencana banjir atau longsor di sejumlah wilayah di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan dampak nyata kerusakan lingkungan yang harus direspons oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan.

Menurut Agung, guru Matematika di tingkat SMA memiliki peran krusial dalam menanamkan literasi lingkungan melalui integrasi data dan konteks dunia nyata. Itu sebabnya perlu diketahui   bahwa literasi bukan hanya sekadar membaca, melainkan keterampilan seseorang untuk memahami, menganalisis, dan membuat keputusan yang tepat.

Penyampaian materi oleh nara sumber dari Prodi Matematika UMM.

Dalam konteks Literasi Lingkungan berarti kemampuan menerapkan tiga tahapan tersebut terhadap isu-isu ekologis. Hal ini mencakup beberapa dimensi utama yaitu, Pertama, Pengetahuan Ekologis: Pemahaman dasar tentang sistem alam/bumi. Kedua, Kesadaran Isu Lingkungan: Mengetahui isu-isu spesifik, seperti perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati (khususnya di Kabupaten Gresik, kota industri yang memiliki sekitar kurang lebih 800 perusahaan industri).

Berikutnya ketiga, Keterampilan Berpikir Kritis: Kemampuan menganalisis informasi lingkungan (misalnya, data limbah) dan mencari bukti. Ke-empat, Perilaku Berkelanjutan: Mengadopsi kebiasaan yang mendukung kelestarian lingkungan.

Nah, tandas Agung hubungan antara matematika dengan lingkungan yaitu matematika sebagai alat analisis isu lingkungan. Itu sebabnya pembahasan diskusi bagaimana Matematika dapat bertindak sebagai alat analisis, sementara isu lingkungan menjadi konteks dunia nyata dalam pembelajaran. Tujuannya  untuk mengukur, memodelkan, dan memprediksi fenomena (misalnya, prediksi suhu atau dampak deforestasi) dengan menggunakan data lingkungan yang nyata untuk menarik kesimpulan numerik. Sehingga dapat membangun kesadaran lingkungan berdasarkan bukti (data), bukan hanya sekedar dari asumsi saja. 

Integrasi materi pokok Matematika dengan isu lingkungan diantaranya Aljabar, dalam konteks isu lingkungan terkait pertumbuhan populasi dan deforestasi. Selanjutnya untuk aplikasi kontekstualnya misalnya dapat dilakukan dengan cara analisis data BPS untuk memodelkan pertumbuhan penduduk, permodelan dampak pengundulan hutan seperti di riau (luas hutan dari 81.739 hektar tersisa 12.561 hektar atau tersisa hanya sekitar 15 persen).

Sesi foto bersama nara sumber bersama peserta diskusi.


Selanjutnya, statistik, dalam konteks isu lingkungan  terkait kualitas udara dan curah hujan.  Aplikasi kontekstualnya misalnya dengan menganalisis data  BMKG mengenai curah hujan, suhu, dan kualitas udara. 

Geometri, dalam konteks isu lingkungan terkait area resapan air dan efisiensi energi. Aplikasi kontekstualnya dengan melakukan perhitungan luas area resapan air, penentuan efisiensi penempatan panel surya (relevan untuk gresik yang banyak terpapar matahari), dan perhitungan volume limbah industri.

Kalkulus,  dalam konteks isu lingkungan terkait laju perubahan. Aplikasi kontekstualnya  dengan menghitung penggunaan turunan untuk laju perubahan permukaan bumi atau suju, dan integral untuk akumulasi karbon di atmosfer (efek rumah kaca). 

Atas dasar ini, Agung merekomendasi aktivitas dan model pembelajaran untuk mengimplementasikan literasi lingkungan, diantaranya project Prediksi Suhu dimana siswa ditugaskan mengumpulkan data suhu rata-rata tahunan BMKG Gresik, membuat diagram titik (scatter plot), dan menggunakan Regresi Linear untuk memprediksi suhu di masa depan serta mendiskusikan dampaknya.

Efisiensi Air Rumah Tangga, siswa ditugaskan untuk menghitung rata-rata penggunaan air per hari dan membuat model, kemudian mensimulasikan dampak pengurangan penggunaan air (misalnya 10-30%).

Pemodelan Limbah Plastik, siswa dapat menimbang sampah harian sekolah, membuat grafik, dan merumuskan solusi pengelolaan sampah (Reduce, Reuse, Recycle).

Agung menyarankan Model pembelajaran adalah Project-Based Learning (PjBL), Problem-Based Learning (PBL), dan Data Deep Learning, yang mendorong siswa untuk mengambil keputusan berdasarkan data yang valid, bukan sekadar opini. Integrasi ini membuat pembelajaran Matematika  lebih bermakna (meaningful learning), menumbuhkan perilaku berkelanjutan, dan mendukung pencapaian Profil Pelajar Pancasila.

Saat diskusi, tambah Agung peserta sangat antusias hingga beberapa pertanyaan tentang Literasi Lingkungan disampaikan. Salah satunya dari Ibu Nora Farida Hanum, S.Si dari SMA Negeri 1 Kebomas, tentang menganalisa data progressnya yang diinginkan literasi lingkungan untuk apa? Kalau hanya mengkritisi masalah yang ada dengan data tanpa solusi kan sama saja ?

 Atas pertanyaan ini Agung menggarisbawahi pentingnya memastikan bahwa desain pembelajaran selaras dengan tujuan akhir yang ingin dicapai. “Jangan sampai kita merancang pembelajaran tapi tidak tepat tujuannya, tidak tepat capaiannya yang dimau itu apa,” ujar Agung.

Agung juga menajwab materi statistik apakah tujuannya hanya agar siswa tahu rumus rata-rata, atau agar siswa bisa mengimplementasikan dan memahami kegunaan rata-rata dalam menganalisis suatu data? “Dia (siswa) paham yang dimaksud rata-rata ini, gunanya untuk apa, tidak hanya sekadar hafal rumusnya,” jawab Agung.

Di tempat sama, narasumber yang lain, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd, memaparkan bahwa capaian akhir siswa mampu memberikan solusi (yang dapat dikategorikan sebagai C6) harus diawali dari perencanaan yang matang.

“Bahwa pembelajaran harus bisa meng-create bagaimana menyikapi solusi, setelah membaca data mereka bisa meng-create bagaimana memberikan solusi,” ucap Dyah.

Untuk mencapai kompetensi ini, lanjut Dyah, kegiatan pembelajaran harus dirancang agar indikator yang direncanakan dapat terwadahi. Salah satu kunci untuk membuat pembelajaran Matematika yang sering dianggap abstrak menjadi konkret adalah melalui penggunaan data yang relevan dengan kehidupan siswa. Guru disarankan untuk menggunakan metode PBL, PjBL, melalui pendekatan ini, data tidak hanya sekadar angka, tetapi berubah menjadi fakta yang mendorong siswa untuk melakukan upaya atau solusi. (tim prodi matematika umm/don)

Posting Komentar

0 Komentar