![]() |
| Lazismu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta ketika membahas zakat profesi dokter. |
YOGYAKARTA– Di sebuah ruangan sederhana yang hangat oleh doa dan harapan, Rabu pagi, 4 Maret 2026, senyum para guru merekah. Hari itu, Lazismu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta kembali meneguhkan komitmennya: zakat profesi dokter bukan sekadar angka, tetapi energi kebaikan yang menguatkan penjaga peradaban—para guru.
Melalui Program Peduli Guru tahun ajaran 2025–2026, Lazismu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Gamping, dan Sleman menyalurkan bantuan kepada 15 guru dari 5 sekolah di DIY. Setiap guru menerima bantuan rutin setiap bulan selama satu tahun penuh. Program ini lahir dari kepedulian para dokter dan tenaga kesehatan yang menunaikan zakat profesinya melalui Lazismu—zakat yang kini menjelma menjadi harapan baru bagi mereka yang saban hari mendidik generasi bangsa.
Dari Ruang Praktik ke Ruang Kelas
Di balik stetoskop para dokter RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, tersimpan empati yang meluas hingga ke ruang-ruang kelas sederhana. Akbar, pengurus Lazismu RS PKU Muhammadiyah, menyampaikan bahwa guru-guru penerima manfaat rata-rata hanya memperoleh pendapatan sekitar Rp200.000 per bulan. Angka yang jauh dari kata layak untuk sebuah pengabdian besar: mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Karena itu, zakat profesi dokter PKU kami arahkan salah satunya untuk memperkuat kesejahteraan guru. Kami ingin mereka bisa lebih fokus, lebih tenang, dan semakin profesional dalam mendidik peserta didik,” ujarnya.
Pada periode Syawal 1446 H hingga Rabi’ul Awal 1447 H, dana sebesar Rp18.000.000 telah tersalurkan. Sementara pada Rabi’ul Akhir hingga Ramadhan 1447 H, dana sebesar Rp22.500.000 ditasyarufkan dalam acara tersebut. Bantuan ini tidak hanya menjadi tambahan finansial, tetapi juga simbol keberpihakan pada profesi yang sering luput dari perhatian.
Bukan Sekadar Dana, Tapi Pembinaan
Yang membedakan program ini, Lazismu tidak berhenti pada penyaluran dana. Dalam acara yang juga dihadiri Ketua Lazismu DIY, Bapak Jefri Fahana, ditegaskan bahwa program Peduli Guru adalah gerakan pemberdayaan.
Dalam sambutannya, Da’i Iskandar mengapresiasi langkah Lazismu RS PKU Muhammadiyah. Menurutnya, program ini bukan sekadar rutinitas distribusi, melainkan bentuk keberpihakan strategis terhadap peningkatan kualitas pendidikan di DIY. Ia menilai integrasi antara bantuan finansial dan pembinaan menjadi kekuatan utama program ini.
Pembinaan psiko-spiritual disampaikan oleh Ustadz Cahyono, S.Ag., Penasehat Lazismu RS PKU Muhammadiyah yang juga Direktur SDI, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan rumah sakit. Dalam tausiyahnya, ia menguatkan para guru agar memaknai profesinya sebagai ladang amal jariyah yang tak pernah putus. “Mengajar bukan sekadar pekerjaan, tetapi peradaban. Setiap huruf yang diajarkan, setiap akhlak yang ditanamkan, adalah investasi akhirat,” pesannya.
Menguatkan Pilar Pendidikan DIY
Data Lazismu DIY sebelumnya mencatat ratusan guru di berbagai wilayah telah menerima manfaat program serupa, dengan total penyaluran miliaran rupiah. Gerakan ini menunjukkan bahwa zakat, infak, dan sedekah yang terkelola profesional mampu menjadi solusi konkret bagi persoalan kesejahteraan guru.
Melalui Program Peduli Guru, Lazismu RS PKU Muhammadiyah berharap kesejahteraan guru di DIY semakin meningkat dan lebih layak. Dengan kesejahteraan yang lebih baik, para guru diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme, kreativitas, dan dedikasi dalam mendidik generasi masa depan.
Di tengah tantangan ekonomi dan kompleksitas dunia pendidikan, zakat profesi dokter PKU telah menjelma menjadi jembatan harapan. Dari ruang-ruang pelayanan kesehatan, kebaikan itu kini mengalir ke ruang-ruang kelas—menguatkan guru, menjaga nyala ilmu, dan merawat masa depan bangsa. (arief hartanto/mpi pdm sleman)


0 Komentar